بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Dokumen Resmi(PPUQHM)
Karang Senang SP 3, Mimika – Papua Tengah
DOKUMEN RESMI
Disahkan oleh Pengasuh PPUQHM
Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz
— BAGIAN 1 —
Pondok Pesantren Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi (PPUQHM) didirikan pada 28 Oktober 2017 dengan peletakan batu pertama oleh KH. Ma'ruf Amin, KH. Miftahul Akhyar, dan KH. Lukman Haris Dimyathi, kemudian diresmikan pada 23 September 2018 oleh Ny. Hj. Mutammimah Hasyim dan Gus Yusron Sidqy.
Pesantren ini mengusung nama Almaghfurullah KH. Ahmad Hasyim Muzadi (1944–2017) — Ketua Umum PBNU dua periode, pendiri Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok, sekaligus tokoh Islam Wasathiyah dunia. Pendirian PPUQHM adalah bentuk pengamalan dan kelanjutan estafet pemikiran sang Mahaguru di tanah Papua.
Visi, Misi, dan Tujuan PPUQHM yang tertuang dalam dokumen ini menjadi pedoman utama bagi seluruh sivitas pesantren — pengasuh, asatidz, santri, dan keluarga besar PPUQHM — dalam menjalankan amanah pendidikan dan dakwah Islam Aswaja An-Nahdliyah di tanah Cendrawasih.
— BAGIAN 2 —
Menjadi pesantren tahfidzul Qur'an unggulan yang melahirkan generasi ahlul Qur'an berkarakter Aswaja An-Nahdliyah dan berwawasan Islam Wasathiyah untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Visi PPUQHM mengandung lima kata kunci penting yang menjadi identitas dan arah pesantren:
PPUQHM menetapkan tahfidzul Qur'an sebagai jantung kurikulumnya. "Unggulan" berarti tidak sekadar menghafal, tetapi menghafal dengan kualitas: bacaan tartil dan fasih sesuai kaidah tajwid, hafalan yang mutqin (kuat dan tidak mudah lupa), serta sanad muttashil hingga Rasulullah SAW melalui jalur Mbah Munawwir Krapyak.
Ahlul Qur'an bukan sekadar yang hafal Al-Qur'an, melainkan yang menghidupkan Al-Qur'an dalam kesehariannya — dalam akhlak, ibadah, muamalah, dan dakwah. Lulusan PPUQHM diharapkan menjadi qari/qari'ah yang merepresentasikan Al-Qur'an dalam seluruh dimensi kehidupan.
PPUQHM tegas berdiri di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah ala Nahdlatul Ulama — dengan rujukan empat madzhab fiqih (utamanya Syafi'i), aqidah Asy'ariyyah-Maturidiyyah, dan tasawuf Imam Junaid Al-Baghdadi & Imam Al-Ghazali. Tradisi tahlilan, yasinan, maulid, ziarah, shalawat, dan ta'dzim kepada ulama dipertahankan sebagai identitas pesantren.
Mengikuti pemikiran Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi tentang Islam Wasathiyah — Islam yang moderat, tengahan, tidak ekstrem ke kanan (radikalisme) maupun ke kiri (liberalisme). Lulusan PPUQHM diharapkan menjadi penjaga moderasi beragama di tengah masyarakat plural Indonesia, terutama dalam konteks Papua yang sangat majemuk.
Akhir dari visi ini adalah orientasi pengabdian. Lulusan PPUQHM tidak boleh menjadi ulama yang asing dari masyarakat (ivory tower), melainkan ulama yang turun ke umat, melayani bangsa, dan berkontribusi nyata pada peradaban Indonesia — sebagaimana Tafaqquh fid Din wa fil Mujtama' yang diajarkan KH. Hasyim Muzadi.
— BAGIAN 3 —
Untuk mewujudkan Visi tersebut, PPUQHM menetapkan tujuh Misi sebagai langkah-langkah strategis:
— BAGIAN 4 —
Tujuan PPUQHM dibagi menjadi dua kategori: Tujuan Umum (jangka panjang) dan Tujuan Khusus (operasional).
PPUQHM bertujuan menjadi institusi pendidikan Islam yang:
Secara operasional, PPUQHM menetapkan tujuan khusus yang terukur sebagai berikut:
— BAGIAN 5 —
"Tandurane Abah, Tukule nang Papua"
(Tanaman Beliau, Tumbuh di Papua)
Motto ini diambil dari kalimat sakral Ny. Hj. Mutammimah Hasyim pada peresmian PPUQHM 23 September 2018. Kalimat ini menjadi prasasti spiritual yang mengingatkan seluruh sivitas PPUQHM bahwa pesantren ini adalah "tanaman" — buah dari benih dakwah Almaghfurullah KH. Ahmad Hasyim Muzadi yang ditanam puluhan tahun lalu di Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok, dan secara takdir Allah tumbuh dan berbuah di tanah Papua.
Mengikuti ajaran Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi: santri tidak hanya mendalami agama (Tafaqquh fid Din), tetapi juga mendalami masyarakat (Tafaqquh fil Mujtama'). Pesantren bukan menara gading yang terpisah dari realitas sosial, melainkan pusat pencerahan yang turun ke masyarakat.
PPUQHM meyakini bahwa keilmuan tanpa sanad bagaikan air tanpa sumber. Sanad muttashil adalah jaminan keaslian dan keberkahan ilmu. Empat sanad Al-Qur'an Pengasuh yang bermuara ke Mbah Munawwir Krapyak menjadi mata air keilmuan PPUQHM.
PPUQHM tegas berdiri di atas manhaj Aswaja An-Nahdliyah. Tradisi tahlilan, yasinan, maulid, ziarah, shalawat, dan ta'dzim kepada ulama dipertahankan sebagai identitas. Manhaj ini bukan sekadar warisan, melainkan jalan tengah yang menyelamatkan umat dari ekstremisme.
Islam Wasathiyah Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi menjadi wawasan hidup santri PPUQHM — moderat, toleran, menghargai keberagaman, namun tetap teguh pada akidah dan syariat.
Semua proses pendidikan di PPUQHM bermuara pada satu hal: khidmah (pengabdian). Bukan untuk gelar, bukan untuk kekayaan, bukan untuk popularitas — tetapi untuk berkhidmah kepada Allah, agama, masyarakat, dan bangsa.
— BAGIAN 6 —
PPUQHM menjunjung tujuh nilai inti yang menjadi karakter seluruh sivitas pesantren:
Setiap aktivitas pesantren — dari mengajar hingga belajar, dari mengaji hingga melayani — diniatkan murni untuk Allah SWT.
Konsisten dalam ibadah, belajar, dan amal kebaikan. Tidak putus-putus, tidak setengah-setengah.
Rendah hati di hadapan Allah dan sesama. Tidak membanggakan ilmu, gelar, nasab, atau prestasi.
Mengutamakan adab di atas ilmu. Adab kepada guru, kepada orangtua, kepada Al-Qur'an, kepada sesama makhluk.
Mengejar keberkahan, bukan sekadar hasil. Karena ilmu yang barakah lebih bermanfaat dari ilmu yang banyak.
Moderat, tengahan, tidak ekstrem. Menghargai perbedaan dalam bingkai persatuan.
Pengabdian sebagai puncak nilai. Ilmu untuk diamalkan, hidup untuk melayani.
— BAGIAN 7 —
Lulusan PPUQHM diharapkan memiliki lima karakter utama yang membedakannya dari lulusan pesantren lain:
Lulusan PPUQHM adalah hafidz/hafidzah 30 juz dengan sanad Al-Qur'an muttashil melalui jalur KH. Muhammad Munawwir Krapyak. Mereka membawa keberkahan sanad ini kepada generasi berikutnya yang akan mereka didik.
Selain hafidz, lulusan PPUQHM mampu membaca dan memahami kitab kuning klasik — minimal Fathul Qorib (fiqih), Jurumiyah (nahwu), Amtsilati Tashrifiyyah (sorof), dan Aqidatul Awam (aqidah). Bagi yang bertahan lebih lama, mampu menguasai Fathul Mu'in, Alfiyah Ibnu Malik, dan kitab-kitab tingkat lanjut.
Lulusan PPUQHM teguh dalam manhaj Aswaja An-Nahdliyah, dengan wawasan moderat Islam Wasathiyah. Mereka adalah benteng dari radikalisme dan liberalisme, sekaligus penjaga moderasi beragama di tengah masyarakat plural.
Lulusan PPUQHM menguasai bahasa Arab aktif dan bahasa Inggris pasif/aktif. Mereka siap melanjutkan studi ke perguruan tinggi Islam di Indonesia (UIN, STAIMA, Al-Azhar Indonesia) maupun ke luar negeri (Al-Azhar Mesir, Az-Zaitunah Tunisia, Universitas Islam Madinah, dll).
Lulusan PPUQHM lulus bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk umat. Mereka siap menjadi imam, khatib, guru ngaji, da'i, pengasuh TPQ, ustadz pesantren, atau bahkan pendiri pesantren cabang PPUQHM di daerah masing-masing.
— BAGIAN 8 —
Visi, Misi, dan Tujuan PPUQHM yang tertuang dalam dokumen ini adalah pedoman utama bagi seluruh sivitas pesantren dalam menjalankan amanah pendidikan dan dakwah. Dokumen ini disusun dengan istikharah, dengan harapan menjadi pijakan untuk lima dekade ke depan dan seterusnya.
Semua sivitas PPUQHM — pengasuh, asatidz, santri, pengurus, dan keluarga besar pesantren — wajib memahami, menghayati, dan mengamalkan dokumen ini dalam setiap aktivitas pesantren.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, keberkahan, dan istiqomah dalam mewujudkan Visi, Misi, dan Tujuan PPUQHM ini. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Mimika, ___ ___________ 2026
Pengasuh PPUQHM,
Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz