بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

PONDOK PESANTREN
"Tandurane Abah, Tukule nang Papua"
(Tanaman Beliau, Tumbuh di Papua)
Pesantren Tahfidz Aswaja An-Nahdliyah
Pertama di Kabupaten Mimika, Papua Tengah
BAB 1
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah menumbuhkan tanaman dakwah Almaghfurullah KH. Ahmad Hasyim Muzadi di tanah Cendrawasih melalui Pondok Pesantren Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi (PPUQHM).
Dokumen ini disusun sebagai catatan resmi dan dokumentasi lengkap tentang profil dan sejarah PPUQHM — pesantren yang berdiri pada 28 Oktober 2017 dengan peletakan batu pertama oleh tiga ulama besar nasional, dan diresmikan pada 23 September 2018 oleh keluarga Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi.
Pesantren ini lahir dari keprihatinan terhadap minimnya pesantren tahfidz dengan manhaj Aswaja An-Nahdliyah di tanah Papua. Pertumbuhannya selama sembilan tahun (2017-2026) telah membuktikan bahwa keberkahan Allah SWT mengalir di setiap sudut bumi — termasuk di tanah ujung timur Indonesia.
Dokumen ini bukan sekadar catatan administratif, melainkan refleksi spiritual atas perjalanan pesantren yang setiap babnya berisi pelajaran, kesabaran, kegembiraan, dan kesyukuran. Semoga dokumen ini bermanfaat bagi pembaca, dan menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin berkhidmah dalam pendidikan Islam Aswaja di tempat-tempat yang masih membutuhkan.
Pengasuh PPUQHM,
Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz& Ning Siti Imroatus Sholihah, S.Pd., Al-Hafidzah
BAB 2
PPUQHM adalah pesantren tahfidz Aswaja An-Nahdliyah pertama di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang mengusung nama Almaghfurullah KH. Ahmad Hasyim Muzadi dan meneruskan estafet pemikiran beliau di tanah Cendrawasih.
Pesantren ini diasuh oleh pasangan suami-istri hafidz-hafidzah: Gus Mursyid Adi Saputra (dzurriyah Sunan Giri dengan sertifikat NAAT) dan Ning Siti Imroatus Sholihah (alumni 4 pesantren NU ternama), keduanya membawa total 6 jalur sanad ke KH. Muhammad Munawwir Krapyak.
PPUQHM menggabungkan pendidikan tahfidz, kitab kuning klasik, dan sekolah formal SMP & SMA terakreditasi — sehingga lulusannya menjadi hafidz/hafidzah sekaligus memiliki ijazah resmi negara untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Pesantren ini terbuka untuk semua kalangan, dengan menyediakan beasiswa khusus untuk santri dhuafa, mengikuti filosofi NU "murah meriah, banyak berkah".
Selama sembilan tahun perjalanan (2017-2026), PPUQHM telah meluluskan generasi hafidz/hafidzah, membuka cabang Madrasah Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi di SP 1, dan membangun jaringan kerjasama dengan kampus-kampus dalam dan luar negeri.
BAB 3
Pendirian PPUQHM tidak bisa dilepaskan dari perjalanan spiritual Gus Mursyid Adi Saputra yang setelah menyelesaikan studi di STKQ Al-Hikam Depok pada tahun 2017, mengikuti program PROSAKTI (Program Sarjana Mengabdi) selama satu tahun di tanah Papua. Dalam masa pengabdian inilah Allah SWT menanam benih cita-cita untuk mendirikan pesantren di SP 3.
Gus Mursyid melihat realitas yang menggugah hati: di Mimika belum ada pesantren tahfidz dengan manhaj Aswaja An-Nahdliyah yang murni. Banyak masyarakat NU di Papua yang merindukan tradisi pesantren seperti yang ada di Jawa, namun tidak ada wadah formal yang menyediakannya. Dari keprihatinan ini, lahirlah cita-cita mendirikan pesantren yang membawa tradisi pesantren NU ke tanah Papua.
Salah satu peristiwa kunci dalam pendirian PPUQHM adalah hibah tanah dari Pak Edi & Bu Ida pada 25 Januari 2018. Pasangan ini dengan ikhlas menghibahkan tanah mereka untuk dijadikan lokasi pesantren — bukan sekadar pewakaf, tetapi PENGHIBAH dengan transfer kepemilikan yang lebih kuat secara hukum.
Tindakan mulia ini menjadi salah satu tonggak penting yang memungkinkan PPUQHM berdiri. Tanpa keikhlasan Pak Edi & Bu Ida, pesantren ini tidak akan ada di tempat strategis seperti sekarang. Semoga Allah SWT membalas kebaikan beliau berdua dengan keberkahan yang berlipat ganda.
Peresmian PPUQHM pada 23 September 2018 menjadi momen yang sangat sakral. Yang meresmikan adalah dua sosok kunci dari keluarga Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi:
Pada momen peresmian, Ny. Hj. Mutammimah mengucapkan kalimat sakral yang kemudian menjadi motto pesantren:
Kalimat ini menjadi prasasti spiritual PPUQHM yang akan terus dikenang dan diulang dalam setiap dokumentasi pesantren. Maknanya sangat dalam: PPUQHM adalah "tanaman" — buah dari benih dakwah Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi yang ditanam puluhan tahun lalu di Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok, dan secara takdir Allah tumbuh dan berbuah di tanah Papua.
BAB 4
Ulama besar nasional yang pada saat peletakan batu pertama menjabat sebagai Rais Aam PBNU. Beliau kemudian terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13 (2019-2024). Kehadiran beliau dalam peletakan batu pertama PPUQHM adalah bentuk dukungan nyata kepada pesantren NU di tanah Papua.
Ulama besar dari Surabaya yang kemudian menjabat sebagai Rais Aam PBNU dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beliau adalah salah satu ulama paling berpengaruh di NU dan Indonesia.
Pengasuh Pondok Pesantren Tremas, Pacitan — salah satu pesantren NU tertua dan paling berwibawa di Jawa Timur. Kehadiran beliau merepresentasikan tradisi pesantren NU klasik di tanah Papua.
Istri Almaghfurullah KH. Ahmad Hasyim Muzadi — Ketua Umum PBNU dua periode (1999-2010), pendiri Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok, dan tokoh Islam Wasathiyah dunia. Ny. Hj. Mutammimah adalah saksi langsung perjalanan dakwah suami beliau, dan kehadirannya dalam peresmian PPUQHM merupakan restu spiritual yang sangat berharga.
Putra bungsu Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi yang melanjutkan dakwah ayahanda di lingkungan keluarga Al-Hikam. Restu beliau menjadi pengakuan resmi dari keluarga Al-Hikam terhadap PPUQHM sebagai "pesantren Hasyim Muzadi di Papua".
Ada takdir yang sangat menyentuh tentang Ny. Hj. Mutammimah dan Gus Yusron Sidqy. Pada malam wafat Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi (16 Maret 2017):
Yang meresmikan PPUQHM (23 September 2018) adalah dua sosok yang sama yang berada di samping kepala Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi pada malam wafat beliau. Ini adalah lingkaran takdir yang sangat menyentuh dan penuh hikmah — seakan PPUQHM benar-benar adalah "tanaman Abah" yang diakui oleh keluarga inti beliau.
BAB 5
Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz
Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz lahir di Karangmalang Wetan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada Malam Senin 12 Rabi'ul Awwal 1414 H bertepatan dengan 29 Agustus 1993 — Malam Maulid Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah putra dari pasangan H. Muhammad Sobirin (Kepala Desa Karangmalang Wetan) dan Hj. Siti Kumaeroh. Kakek beliau adalah KH. R. Muhammad Said.
Yang sangat istimewa tentang Gus Mursyid adalah silsilah nasab beliau yang bersambung 43 generasi sampai Rasulullah Muhammad SAW. Dari jalur ibunda Hj. Siti Kumaeroh, beliau adalah dzurriyah Sunan Giri melalui:
Status nasab Gus Mursyid telah diverifikasi secara resmi melalui dua lembaga otoritatif dengan Sertifikat Nomor 0047/NAAT-SHD/XII/2023 tanggal 13 Desember 2023:
Sayyid Ibrohim Maulana Ishaq menjadi titik temu dua otoritas — beliau adalah jembatan antara dunia Maghrib (asal usul) dan Nusantara (Walisongo).
Namun mengikuti teladan tawadhu Walisongo (yang tidak menonjolkan nasab dengan gelar berlebihan), beliau lebih memilih dipanggil dengan nama akrab "Gus Mursyid Adi Saputra".
Gus Mursyid memiliki 4 jalur sanad Al-Qur'an muttashil yang semuanya bermuara pada KH. Muhammad Munawwir Krapyak — sanad utama tahfidz abad 20 di Nusantara:
Gus Mursyid memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi NU di Mimika:
BAB 6
Ning Siti Imroatus Sholihah, S.Pd., Al-Hafidzah
Ning Siti Imroatus Sholihah, S.Pd., Al-Hafidzah lahir di Kendal, Jawa Tengah pada 14 Agustus 1992. Beliau adalah anak bungsu dari empat bersaudara, putri dari pasangan KH. Syamsuddin & Ny. Hj. Nuriyah, dari Karanganom, Kec. Weleri, Kabupaten Kendal.
Yang sangat istimewa: Ning Siti telah menempuh pendidikan di 4 pesantren NU ternama:
Total dengan sanad Gus Mursyid, pasangan pengasuh PPUQHM membawa 6 jalur sanad ke Mbah Munawwir Krapyak — keberkahan ganda yang sangat istimewa untuk pesantren tahfidz.
Pernikahan Gus Mursyid dengan Ning Siti dilangsungkan pada 27 Desember 2018 — tepat 3 bulan setelah peresmian PPUQHM. Empat takdir indah menyatukan pasangan ini:
Ning Siti adalah Pengasuh Santri Putri PPUQHM. Beliau saat ini fokus mendidik anak-anak (Ahmad Mursyid & Husna) dan mengasuh santri putri pesantren.
BAB 7
Untuk mewujudkan Visi tersebut, PPUQHM menetapkan tujuh Misi:
Lulusan PPUQHM diharapkan memiliki lima karakter utama:
BAB 8
PPUQHM memiliki 7 keunggulan resmi yang membedakannya dari pesantren-pesantren lain di Indonesia, khususnya di kawasan Indonesia Timur:
Setiap santri yang khatam 30 juz akan menerima sanad Al-Qur'an muttashil melalui jalur KH. Muhammad Munawwir Krapyak — sanad utama tahfidz abad 20 di Nusantara. Pasangan pengasuh PPUQHM membawa total 6 jalur sanad ke Mbah Munawwir Krapyak (4 dari Gus + 2 dari Ning), keberkahan ganda yang sangat istimewa.
PPUQHM diasuh oleh pasangan hafidz dan hafidzah — sangat istimewa untuk pesantren tahfidz. Santri putra dibimbing langsung Gus Mursyid, santri putri dibimbing langsung Ning Siti. Selain pengasuh, para asatidz/asatidzah pengajar juga adalah hafidz/hafidzah dengan sanad muttashil.
Tidak hanya tahfidz, santri PPUQHM juga belajar kitab kuning klasik tradisi pesantren NU: Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Aqidatul Awam, Tijan Darari, Ta'lim Muta'allim, Bidayatul Hidayah, Jurumiyah, Imrithi, hingga Alfiyah Ibnu Malik.
PPUQHM menggabungkan pendidikan tahfidz dan kitab kuning dengan SMP & SMA terakreditasi resmi. Lulusan tidak hanya menjadi hafidz/hafidzah, tetapi juga memiliki ijazah formal yang diakui Kemendikbud — sehingga bisa melanjutkan pendidikan tinggi ke perguruan tinggi mana pun.
PPUQHM mengikuti filosofi NU "murah meriah, banyak berkah" — pesantren tidak boleh menjadi institusi elit yang hanya untuk orang kaya. Karena itu, PPUQHM menyediakan beasiswa untuk santri dhuafa:
PPUQHM tegas berdiri di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah ala Nahdlatul Ulama: madzhab fiqih (utamanya Syafi'i), aqidah Asy'ariyyah-Maturidiyyah, dan tasawuf Imam Junaid Al-Baghdadi & Imam Al-Ghazali. Tradisi NU yang khas — tahlilan, yasinan, maulid, ziarah, shalawat, dan ta'dzim kepada ulama — dipertahankan sebagai identitas pesantren. Bebas dari radikalisme dan liberalisme.
PPUQHM menjalin kerjasama dengan kampus-kampus dalam dan luar negeri, sehingga lulusan memiliki akses untuk melanjutkan pendidikan tinggi di berbagai institusi terkemuka. Latar belakang pengasuh sebagai alumni STKQ Al-Hikam Depok (Cumlaude) dan Universitas Az-Zaitunah Tunisia menjadi dasar jaringan internasional pesantren.
BAB 9
Perjalanan Sembilan Tahun PPUQHM (2017-2026)
Selama sembilan tahun perjalanan PPUQHM, pesantren ini telah dilalui oleh sembilan era ustadz dengan dinamika yang beragam — dari masa pembibitan, masa kelam, hingga masa panen raya.
Era pendirian. Gus Mursyid sendirian merintis dasar pesantren bersama masyarakat 5 wilayah Mimika. Masa peletakan batu pertama, hibah tanah, dan peresmian PPUQHM. Era spiritual paling intensif yang menetapkan pondasi pesantren.
Era awal operasional resmi pesantren. Mulai menerima santri-santri awal. Pembentukan sistem kesantrian dasar dan kurikulum awal.
Era pengembangan kurikulum kitab kuning. Era ini juga ditandai dengan peristiwa duka — wafatnya Almarhumah Husnul Khotimah, putri pertama Gus & Ning yang wafat dalam kandungan usia 9 bulan.
Era yang penuh tantangan dengan pandemi COVID-19. Tetapi era ini juga menjadi titik pembentukan Tim Ubus-Ubus (Tim Belajar Ruqyah Aswaja) dan terbitnya IJOP (Izin Operasional Pesantren) dari Kemenag.
Era yang paling sulit dalam sejarah PPUQHM. Konflik internal dan dinamika yang mengguncang pesantren. Tetapi dari era ini lahir pelajaran berharga tentang manajemen pesantren dan kaderisasi.
Era kebangkitan setelah masa kelam. Era ini mencatat pencapaian besar: 2 hafidz perdana PPUQHM yaitu Harun Alry dan Kholid Ibrahim. Kelulusan mereka menjadi bukti bahwa PPUQHM mampu meluluskan hafidz dengan sanad muttashil.
Era pertumbuhan signifikan. Era ini mencatat 2 hafidzah perdana PPUQHM: Nilam Insansani dan Zulfa. Kelulusan mereka membuktikan PPUQHM mampu meluluskan hafidzah dengan sanad muttashil — menjadi pesantren tahfidz untuk putra DAN putri.
Era kelulusan terbanyak: 5 hafidz/hafidzah lulus dalam satu era — Devita, Lindi, Yoga, Abdul Kholid, Nur Wasik. Era ini juga ditandai dengan tonggak besar: pembukaan Madrasah Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi di SP 1 (17 Januari 2025), yang menjadi cabang resmi pertama PPUQHM.
Era saat ini. Konsolidasi setelah masa panen raya. Persiapan untuk fase ekspansi yang lebih luas, peningkatan kualitas akademik, dan persiapan PSB Tahun Ajaran 2026/2027.
BAB 10
Program unggulan PPUQHM dengan target khatam 30 juz dan sanad muttashil:
PPUQHM menyelenggarakan pendidikan formal SMP & SMA yang terakreditasi resmi. Lulusan mendapat ijazah resmi yang dapat dipakai untuk:
BAB 11
BAB 12
Pada 17 Januari 2025, PPUQHM membuka cabang resmi pertama: Madrasah Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi di SP 1 Mimika. Pembukaan ini menjadi tonggak ekspansi PPUQHM dari satu lokasi tunggal menjadi jejaring pesantren di Mimika.
Cabang ini didirikan dengan tujuan:
Mengikuti Masterplan PPUQHM 2026-2050, ekspansi cabang akan dilakukan dalam 5 fase:
PPUQHM menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk pengembangan pesantren:
BAB 13
PPUQHM mengusung nama Almaghfurullah KH. Ahmad Hasyim Muzadi sebagai bentuk pengamalan dan kelanjutan estafet pemikiran sang Mahaguru di tanah Papua.
KH. Hasyim Muzadi adalah tokoh terdepan Islam Wasathiyah — Islam moderat, tengahan, yang tidak ekstrem ke kanan (radikalisme) maupun ke kiri (liberalisme). Pemikiran beliau dirumuskan dalam beberapa buku:
Salah satu konsep terkenal KH. Hasyim Muzadi adalah Tafaqquh fid Din wa fil Mujtama' — bahwa santri tidak hanya mendalami agama (Tafaqquh fid Din), tetapi juga mendalami masyarakat (Tafaqquh fil Mujtama'). Pesantren bukan menara gading yang terpisah dari realitas sosial, melainkan pusat pencerahan yang turun ke masyarakat.
Konsep ini menjadi fondasi pemikiran pendidikan PPUQHM — santri harus menjadi ahli agama yang juga ahli memahami masyarakat di sekitarnya, termasuk masyarakat plural Papua.
Gus Mursyid adalah murid langsung KH. Hasyim Muzadi semasa kuliah di STKQ Al-Hikam Depok (angkatan ke-3, 2012-2018). Hubungan beliau dengan sang Mahaguru bukan hanya hubungan murid-guru biasa, tetapi mencapai puncaknya pada malam wafat KH. Hasyim Muzadi:
Posisi yang sangat istimewa untuk seorang santri ini menunjukkan kedekatan spiritual yang mendalam antara Gus Mursyid dengan KH. Hasyim Muzadi. Tidak heran jika beberapa bulan setelah wafat sang Mahaguru, Gus Mursyid mendirikan PPUQHM sebagai bentuk penghormatan dan kelanjutan estafet dakwah beliau di tanah Papua.
BAB 14
Demikian dokumen Profil dan Sejarah Pondok Pesantren Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi (PPUQHM) yang merangkum perjalanan sembilan tahun pesantren ini (2017-2026). Dokumen ini disusun bukan sebagai pamer pencapaian, melainkan sebagai dokumentasi resmi yang akan menjadi rujukan keluarga besar PPUQHM dan masyarakat luas.
Sembilan tahun bukanlah waktu yang panjang untuk sebuah pesantren. Pesantren-pesantren besar Indonesia — Lirboyo, Tebuireng, Sidogiri, Krapyak — semuanya sudah berusia ratusan tahun. PPUQHM masih berada di awal perjalanan panjangnya. Yang sudah dicapai sembilan tahun ini hanyalah pondasi awal — masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjadikan PPUQHM sebagai pesantren yang benar-benar berkah dan bermanfaat luas.
Tetapi sembilan tahun ini juga membuktikan bahwa keberkahan Allah SWT mengalir di setiap sudut bumi. PPUQHM, yang lahir di tanah ujung timur Indonesia, telah meluluskan generasi hafidz/hafidzah dengan sanad muttashil ke Mbah Munawwir Krapyak, telah membuka cabang di SP 1, dan terus tumbuh dengan dukungan masyarakat Mimika yang luar biasa.
Semoga PPUQHM terus tumbuh dengan keberkahan, melahirkan generasi-generasi ulama yang berkhidmah untuk umat, dan menjadi mercusuar Al-Qur'an di tanah Papua dan seluruh Nusantara. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ مَعْهَدِنَا، وَأَدِمْ بَرَكَاتَهُ، وَاجْعَلْهُ مَنَارَةَ الْقُرْآنِ فِيْ أَرْضِ بَابُوَا، وَاحْفَظْ أَهْلَهُ مِنْ كُلِّ مَكْرُوْهٍ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
"Ya Allah, berkahilah kami dalam pesantren kami, langgengkanlah keberkahannya, jadikanlah ia sebagai mercusuar Al-Qur'an di tanah Papua, dan jagalah keluarga besarnya dari segala keburukan. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin."
Mimika, 1447 H / 2026 M
Pengasuh PPUQHM,
Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz& Ning Siti Imroatus Sholihah, S.Pd., Al-Hafidzah