بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Sejarah PesantrenBAB 1
Pendirian PPUQHM tidak bisa dilepaskan dari perjalanan spiritual Gus Mursyid Adi Saputra yang setelah menyelesaikan studi di STKQ Al-Hikam Depok pada tahun 2017, mengikuti program PROSAKTI (Program Sarjana Mengabdi) selama satu tahun di tanah Papua. Dalam masa pengabdian inilah Allah SWT menanam benih cita-cita untuk mendirikan pesantren di SP 3.
Gus Mursyid melihat realitas yang menggugah hati: di Mimika belum ada pesantren tahfidz dengan manhaj Aswaja An-Nahdliyah yang murni. Banyak masyarakat NU di Papua yang merindukan tradisi pesantren seperti yang ada di Jawa, namun tidak ada wadah formal yang menyediakannya. Dari keprihatinan ini, lahirlah cita-cita mendirikan pesantren yang membawa tradisi pesantren NU ke tanah Papua.
Salah satu peristiwa kunci dalam pendirian PPUQHM adalah hibah tanah dari Pak Edi & Bu Ida pada 25 Januari 2018. Pasangan ini dengan ikhlas menghibahkan tanah mereka untuk dijadikan lokasi pesantren — bukan sekadar pewakaf, tetapi PENGHIBAH dengan transfer kepemilikan yang lebih kuat secara hukum.
Peresmian PPUQHM pada 23 September 2018 menjadi momen yang sangat sakral. Yang meresmikan adalah dua sosok kunci dari keluarga Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi:
Pada momen peresmian, Ny. Hj. Mutammimah mengucapkan kalimat sakral yang kemudian menjadi motto pesantren:
"Subhanallah, gak nyongko tibake tandurane Abah puluhan tahun tukule nang Papua"
(Subhanallah, tidak menyangka bahwa tanaman Beliau puluhan tahun, tumbuh di Papua)
— Ny. Hj. Mutammimah Hasyim, 23 September 2018
Kalimat ini menjadi prasasti spiritual PPUQHM yang akan terus dikenang dan diulang dalam setiap dokumentasi pesantren. Maknanya sangat dalam: PPUQHM adalah "tanaman" — buah dari benih dakwah Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi yang ditanam puluhan tahun lalu di Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok, dan secara takdir Allah tumbuh dan berbuah di tanah Papua.
BAB 2
Ulama besar nasional yang pada saat peletakan batu pertama menjabat sebagai Rais Aam PBNU. Beliau kemudian terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13 (2019-2024). Kehadiran beliau dalam peletakan batu pertama PPUQHM adalah bentuk dukungan nyata kepada pesantren NU di tanah Papua.
Ulama besar dari Surabaya yang kemudian menjabat sebagai Rais Aam PBNU dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beliau adalah salah satu ulama paling berpengaruh di NU dan Indonesia.
Pengasuh Pondok Pesantren Tremas, Pacitan — salah satu pesantren NU tertua dan paling berwibawa di Jawa Timur. Kehadiran beliau merepresentasikan tradisi pesantren NU klasik di tanah Papua.
Istri Almaghfurullah KH. Ahmad Hasyim Muzadi — Ketua Umum PBNU dua periode (1999-2010), pendiri Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok, dan tokoh Islam Wasathiyah dunia. Ny. Hj. Mutammimah adalah saksi langsung perjalanan dakwah suami beliau, dan kehadirannya dalam peresmian PPUQHM merupakan restu spiritual yang sangat berharga.
Putra bungsu Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi yang melanjutkan dakwah ayahanda di lingkungan keluarga Al-Hikam. Restu beliau menjadi pengakuan resmi dari keluarga Al-Hikam terhadap PPUQHM sebagai "pesantren Hasyim Muzadi di Papua".
Ada takdir yang sangat menyentuh tentang Ny. Hj. Mutammimah dan Gus Yusron Sidqy. Pada malam wafat Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi (16 Maret 2017):
Konfigurasi Sakral di Sisi Sang Kyai (Malam Wafat)