بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Karang Senang SP 3, Mimika – Papua Tengah
Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz
(Pengasuh)
Ning Siti Imroatus Sholihah, S.Pd., Al-Hafidzah
(Pengasuh Santri Putri)
💍 Pernikahan: 27 Desember 2018
— Prolog —
— Bagian I: Profil Pasangan —
— Bagian II: Takdir yang Menyatukan —
— Bagian III: Pernikahan & Perjalanan —
— Bagian IV: Keluarga —
— Bagian V: Kemitraan Pengasuh —
— Epilog —
PROLOG
Di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah — yang dijuluki "Kota Santri" karena kekayaan tradisi pesantrennya — pada akhir abad 20 lahir dua bayi dari dua keluarga ulama yang berbeda. Yang satu lahir di Karangmalang Wetan pada Malam Maulid Nabi 1414 H (29 Agustus 1993), yang lain lahir di Karanganom Weleri pada 14 Agustus 1992 — selisih hampir setahun, di kabupaten yang sama, tetapi di desa yang berjauhan.
Dua bayi itu — yang kelak menjadi Gus Mursyid Adi Saputra dan Ning Siti Imroatus Sholihah — tumbuh terpisah, mondok di pesantren-pesantren yang berbeda, menempuh pendidikan tinggi di kota yang berbeda. Tetapi Allah SWT, dalam takdir yang sempurna, telah merencanakan pertemuan mereka jauh sebelum keduanya saling kenal. Garis nasab leluhur mereka, garis sanad guru-guru mereka, jaringan pesantren tempat mereka belajar — semuanya secara perlahan diatur Allah untuk bertemu pada satu titik: pernikahan tanggal 27 Desember 2018.
Inilah dokumen yang menceritakan kisah pasangan ini. Bukan sekadar dua biografi yang dijajarkan, tetapi narasi tentang bagaimana Allah menyatukan dua jalur keilmuan yang berbeda menjadi satu kemitraan dakwah di tanah Papua. Empat lapis takdir indah, satu pernikahan yang menjadi puncak "tahun penuh berkah" 2018, dan satu visi bersama untuk PPUQHM.
BAGIAN I
BAB 1
(Pengasuh PPUQHM)
Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi (PPUQHM). Beliau lahir di Kendal pada Malam Senin, 12 Rabi'ul Awwal 1414 H atau 29 Agustus 1993 — bertepatan dengan Malam Maulid Nabi Muhammad SAW. Tanggal kelahiran ini memberi makna spiritual yang dalam: bahwa beliau lahir pada malam paling istimewa bagi umat Islam.
Beliau adalah putra dari pasangan H. Muhammad Sobirin (Kepala Desa Karangmalang Wetan) dan Hj. Siti Kumaeroh (Perangkat Desa). Kakek dari jalur ayah adalah KH. R. Muhammad Said. Yang sangat istimewa, dari jalur ibunda Siti Kumaeroh, beliau adalah dzurriyah Walisongo — silsilah nasab 43 generasi sampai Rasulullah SAW melalui Sayyidah Fatimah → Sayyid Abdul Qodir Al-Jilani → Maulana Ishaq → Sunan Giri → KH. R. Asy'ari "Kyai Guru Kaliwungu" (kakek buyut).
Status nasab beliau telah diverifikasi secara resmi oleh Naqobah Ansab Auliya' Tis'ah (NAAT) Indonesia dengan kerjasama Naqobah As-Saadah Al-Asyrof Kerajaan Maroko, dengan Sertifikat 0047/NAAT-SHD/XII/2023 tanggal 13 Desember 2023. Nama resmi beliau dalam sertifikat: K.H.R. Mursid Adi Saputra Sibthu al-Giri al-Ishaqi al-Qodiri al-Musawi al-Hasani. Namun dalam tradisi tawadhu mengikuti teladan Walisongo, beliau lebih memilih dipanggil dengan nama akrab: "Gus Mursyid Adi Saputra".
Pendidikan agama Gus dimulai dari kakek KH. R. Muhammad Said sejak usia dini. Kemudian beliau menempuh perjalanan keilmuan di pesantren-pesantren ternama:
Sanad Al-Qur'an Gus bersambung melalui empat jalur, semuanya bermuara ke KH. Muhammad Munawwir Krapyak:
Saat ini Gus Mursyid menjabat sebagai Pengasuh PPUQHM dan Dewan Khos Pagar Nusa Mimika. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua PC LDNU Mimika dan Ketua PC GP Ansor Mimika selama beberapa periode, namun saat ini telah purna dari kedua jabatan tersebut. Beliau juga sedang menempuh program S2 Pendidikan Agama Islam di STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang dengan tesis tentang pemikiran Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi.
BAB 2
(Pengasuh Santri Putri PPUQHM)
Ning Siti Imroatus Sholihah, S.Pd., Al-Hafidzah adalah Pengasuh Santri Putri PPUQHM sekaligus pendamping setia Gus Mursyid. Beliau lahir di Kabupaten Kendal pada tanggal 14 Agustus 1992 — lebih tua hampir setahun dari sang suami. Dalam tradisi pesantren, pasangan dengan istri sedikit lebih tua sering dianggap berkah, mengikuti teladan pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah RA.
Beliau adalah anak bungsu dari empat bersaudara, putri pasangan KH. Syamsuddin dan Ny. Hj. Nuriyah — tokoh agama yang dihormati di Karanganom, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal. Pendidikan agama dan Al-Qur'an pertama beliau peroleh langsung dari pangkuan kedua orangtua, dilengkapi dengan pendidikan formal di MDT NU 06 Darul Ulum Karanganom.
Setelah lulus SD N 02 Karanganom (2005), beliau menempuh perjalanan keilmuan di empat pesantren:
Bersamaan dengan tahfidz, beliau menempuh pendidikan tinggi di Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), lulus tahun 2016 dengan gelar Sarjana Pendidikan.
Sanad Al-Qur'an Ning bersambung melalui dua jalur:
Sanad ini bermuara ke titik yang sama dengan sanad Gus Mursyid.
Saat ini Ning fokus penuh sebagai Pengasuh Santri Putri PPUQHM, mendidik anak-anak kandung dan santri putri pesantren. Beliau dengan sadar memilih untuk tidak aktif di organisasi NU eksternal, melainkan memberikan totalitas waktu, perhatian, dan tenaganya pada amanah utama sebagai ibu dan pengasuh — sesuai hadits Nabi SAW: "Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya."
BAGIAN II
BAB 3
Ketika dua pohon ditanam di tempat berbeda, lalu Allah menyatukan akarnya di bawah tanah — itu adalah takdir. Pernikahan Gus Mursyid dan Ning Siti memiliki empat lapis takdir indah yang baru terungkap setelah pernikahan terjadi. Empat takdir ini menjadi bukti bahwa Allah SWT telah mempersiapkan pertemuan mereka jauh sebelum keduanya saling kenal.
Di akhir abad 19, KH. Abdurrosyid Kaliwungu — saudagar kaya sekaligus kyai Kaliwungu — memiliki dua putra hafidz yang juga menjadi kyai besar: KH. Usman (kakak) dan KH. Ahmad Badawi (adik). Keduanya bersaudara kandung, bahkan sama-sama mondok di Makkah pada masa muda mereka.
KH. Usman (kakak) → PP. Kauman Kaliwungu → KH. Muntaha Al-Hafidz Kalibeber → KH. As'ad Al-Hafidz/Ny. Hj. Umi Fatma → guru NING SITI
KH. Ahmad Badawi (adik) → PPUQ Miftahul Falah Kaliwungu → KH. Munawwiruddin Badawi → guru GUS MURSYID
Pernikahan Gus dan Ning adalah penyatuan kembali dua jalur keilmuan yang berasal dari satu kakek bersama. Apa yang berpisah pada generasi anak-anak beliau, bersatu kembali pada generasi cucu-cicit di tanah Papua.
Gus Mursyid memiliki silsilah nasab yang bersambung kepada Maulana Ishaq melalui Sunan Giri (cucu Maulana Ishaq). Sementara pesantren pertama Ning (PP. Giri Kusumo Demak) didirikan oleh Mbah Hadi yang nasabnya juga bersambung kepada Maulana Ishaq.
Berarti pesantren pertama tempat Ning mondok ternyata didirikan oleh dzurriyah Maulana Ishaq — sama dengan nasab calon suaminya. Ning sudah "diasuh" oleh dzurriyah Maulana Ishaq selama tiga tahun (2005-2008) sebelum bertemu dengan dzurriyah Maulana Ishaq lainnya untuk pernikahan.
Sanad Al-Qur'an Gus melalui empat jalur, dan sanad Ning melalui dua jalur — total enam jalur sanad pasangan ini, semua bermuara ke KH. Muhammad Munawwir Krapyak. Inilah pasangan hafidz-hafidzah yang sanadnya sangat dekat dalam jaringan tahfidz Nusantara.
Keduanya pernah berinteraksi dengan KH. As'ad Al-Hafidz di PP. Baitul Abidin Darussalam — dengan intensitas yang sangat berbeda. Gus Mursyid pada tahun 2011 datang sebagai "santri kalong" untuk tabarrukan setoran hafalan. Sementara Ning Siti memulai hafalan Al-Qur'an di pesantren ini pada tahun 2012, mondok intensif hingga mengkhatamkan 15 juz. Berbeda dalam intensitas dan durasi, tetapi sama dalam keberkahan dari guru yang sama.
BAB 4
Mari kita lihat lebih detail bagaimana enam jalur sanad pasangan ini bertemu di KH. Muhammad Munawwir Krapyak — sanad Al-Qur'an utama abad 20 di Nusantara.
Yang sangat indah, kedua sanad Ning bersambung melalui KH. Muntaha Al-Hafidz — salah satu jalur yang juga ada dalam sanad Gus Mursyid. Berarti pasangan ini berbagi guru spiritual yang sama. Bahkan KH. As'ad Al-Hafidz, yang menjadi guru langsung Gus pada 2011, juga menjadi guru Ning untuk 15 juz pertama hafalannya.
BAGIAN III
BAB 5
— Tanggal Bersejarah —
Pernikahan Gus Mursyid dan Ning Siti dilangsungkan pada tanggal 27 Desember 2018 — tanggal yang sangat istimewa dalam kronologi perjalanan PPUQHM. Tanggal ini terjadi tepat tiga bulan setelah peresmian pesantren oleh Ny. Hj. Mutammimah Hasyim dan Gus Yusron Sidqy pada 23 September 2018.
Pernikahan adalah puncak dari tahun penuh berkah ini. Setelah membangun pesantren bersama masyarakat lima wilayah, setelah lulus kuliah dengan prestasi Cumlaude, setelah pesantren diresmikan oleh keluarga sang guru tercinta — Allah SWT menyempurnakan tahun itu dengan menghadirkan Ning Siti sebagai pendamping setia.
Yang juga sangat indah: Ning Siti lahir pada 14 Agustus 1992, lebih tua dari Gus Mursyid (29 Agustus 1993) — selisih hampir setahun. Dalam tradisi pesantren, pasangan dengan istri sedikit lebih tua sering dianggap berkah, mengikuti teladan pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah RA yang juga lebih tua dari Beliau.
Sayyidah Khadijah adalah istri yang menjadi sumber penguatan Rasulullah SAW di awal kenabian. Pasangan dengan istri sedikit lebih dewasa sering memiliki dinamika kemitraan yang lebih matang dan saling melengkapi.
BAB 6
Setelah pernikahan pada 27 Desember 2018, dimulailah babak baru dalam kehidupan pasangan ini: hijrah bersama ke tanah Papua. Bagi Gus Mursyid, ini adalah "pulang kampung" ke pesantren yang baru saja diresmikannya. Bagi Ning Siti, ini adalah keberangkatan ke tanah baru yang belum pernah dilihatnya, jauh dari Karanganom yang menjadi tempat tumbuh kembangnya.
Banyak istri ulama yang lebih memilih tinggal di Jawa dengan pesantren mertua atau pesantren keluarga sendiri. Tetapi Ning Siti memilih jalan lain — mengikuti suami yang telah mengikrarkan diri untuk berkhidmah di tanah Papua.
Ini bukan karena terpaksa. Ini adalah pilihan sadar yang lahir dari keyakinan: bahwa di sanalah dakwah dibutuhkan, di sanalah Allah akan menempatkannya, di sanalah keberkahan menunggu. Ini adalah teladan tertinggi seorang istri shalihah, mengikuti tradisi Sayyidah Hajar yang ditinggalkan di lembah Makkah yang tandus, dan para istri Sahabat yang hijrah dari Makkah ke Madinah.
Hijrah ke Mimika berarti menghadapi banyak tantangan adaptasi:
Tetapi seperti seorang santriwati sejati yang sudah ditempa di empat pesantren, Ning Siti memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi semua itu: kemandirian dari pengalaman mondok bertahun-tahun, kesabaran dari tradisi pesantren, dan ketabahan dari keluarga ulama.
BAGIAN IV
BAB 7
— Putri yang Pulang Lebih Dahulu —
Tahun 2020 — di era Ustadz Fajar (Masa Pertumbuhan PPUQHM) — keluarga ini dianugerahi kabar gembira: kehamilan putri pertama. Selama sembilan bulan, Ning Siti membawa amanah kehidupan dalam rahimnya. Bayi perempuan yang sedang tumbuh dalam kandungan adalah pendengar pertama tilawah Al-Qur'an seorang Hafidzah.
Tetapi Allah SWT memiliki rencana lain. Pada usia kandungan 9 bulan — saat kehidupan sudah hampir siap dimulai di dunia — sang bayi perempuan dipanggil pulang oleh Allah SWT sebelum sempat lahir ke dunia. Sang putri yang berpulang itu diberi nama indah: Husnul Khotimah — yang berarti "akhir yang baik".
Penamaan ini adalah keimanan tertinggi seorang ulama: bahwa kepulangan sang putri kepada Allah adalah "akhir yang baik" — bukan tragedi, melainkan karunia tersembunyi. Dalam tradisi Islam, anak yang wafat dalam kandungan setelah ditiupkan ruh adalah calon penghuni surga yang akan menjadi syafaat bagi orangtuanya kelak di Hari Kiamat.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا فَرَطًا وَذُخْرًا لأَِبَوَيْهَا وَشَفِيعَةً مُجَابَةً
"Ya Allah, jadikanlah Husnul Khotimah sebagai pendahulu (di surga), simpanan, dan syafaat yang dikabulkan bagi kedua orangtuanya."
Bagi pasangan ini, kehilangan ini adalah ujian yang membentuk kedalaman spiritual mereka. Kesabaran dalam menghadapi musibah, kekuatan untuk terus berkhidmah di pesantren meski hati masih berduka, ketabahan untuk tetap saling menguatkan — semua menjadi pelajaran tersembunyi yang membuat keluarga ini menjadi lebih dalam, lebih kuat, dan lebih bijaksana.
BAB 8
Setelah kehilangan Husnul Khotimah, Allah SWT menganugerahkan dua dzurriyah lain kepada pasangan ini — masing-masing dengan nama yang sangat indah dan sarat makna.
Putra pertama yang hidup, lahir pada tanggal 8 Oktober 2020 — di tahun yang sama dengan wafatnya Husnul Khotimah. Allah memberi dengan cara mengambil, dan mengambil dengan cara memberi.
Nama Ahmad Mursyid Hikam Athoillah menggabungkan empat makna yang sangat dalam:
Sang putra dipersiapkan sejak nama untuk menjadi pewaris tradisi Al-Hikam yang mendalam.
Putri kedua yang hidup, lahir pada tanggal 25 Februari 2022. Yang sangat menyentuh dari nama "Husna" adalah cara mengabadikan ingatan kepada sang kakak yang pulang lebih dahulu — Husnul Khotimah. "Husna" adalah gema dari "Husnul". Setiap kali nama Husna diucapkan, ada gema Husnul yang terdengar.
Sang putri yang pulang lebih dahulu tetap hidup dalam nama adiknya. Setiap kali Husna disebut, ada doa untuk Husnul yang ikut tersampaikan.
BAGIAN V
BAB 9
Di PPUQHM, pasangan ini menjalankan kemitraan pengasuhan yang sangat efektif — masing-masing mengelola domainnya dengan keahlian yang berbeda namun saling melengkapi.
Yang sangat membedakan kemitraan ini adalah pilihan Ning untuk fokus penuh pada pendidikan internal pesantren — anak-anak kandung dan santri putri PPUQHM. Beliau dengan sadar memilih untuk tidak aktif di organisasi NU eksternal seperti Muslimat NU atau Fatayat NU. Pilihan ini bukan karena beliau tidak peduli pada perjuangan organisasi, tetapi karena beliau memilih untuk memberikan totalitas waktu, perhatian, dan tenaganya pada amanah utama: mendidik anak-anak kandung sebagai dzurriyah Walisongo dan generasi penerus dakwah keluarga, serta mendidik santri putri PPUQHM.
Sementara Gus Mursyid yang aktif di berbagai organisasi NU eksternal, Ning Siti menjaga "benteng dalam" — pesantren dan keluarga — dengan totalitas. Inilah pembagian peran yang sangat efektif: yang satu menjangkau ke luar, yang satu memperkokoh ke dalam.
BAB 10
Yang sangat istimewa dari pasangan ini adalah kombinasi delapan tradisi pesantren yang mereka bawa ke PPUQHM. Masing-masing pernah belajar di empat pesantren — totalnya delapan tradisi pesantren NU yang berbeda.
Kedelapan tradisi ini, ketika dipadukan di PPUQHM, menjadikan pesantren ini sebagai "melting pot" tradisi pesantren NU yang sangat kaya. Para santri PPUQHM tidak hanya menerima satu tradisi, tetapi delapan tradisi sekaligus — sebuah kekayaan yang jarang ditemui di pesantren-pesantren baru lainnya.
Kombinasi unik ini terlihat dalam kurikulum PPUQHM:
EPILOG
Pondok Pesantren Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi memiliki pasangan pengasuh yang sangat istimewa: Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz dan Ning Siti Imroatus Sholihah, S.Pd., Al-Hafidzah. Pasangan yang dipertemukan oleh empat lapis takdir indah, yang menikah pada puncak "tahun penuh berkah" 2018, dan yang kini bersama-sama membangun PPUQHM di tanah Cendrawasih.
Bagi para santri PPUQHM, kehadiran pasangan pengasuh ini adalah teladan langsung tentang banyak hal:
Allah SWT telah menganugerahkan tiga dzurriyah kepada pasangan ini:
Wafat dalam kandungan — calon penghuni surga
Pewaris tradisi Al-Hikam
Gema nama sang kakak Husnul Khotimah
"Inilah pasangan pengasuh PPUQHM — yang dipertemukan oleh empat takdir indah, yang menikah pada puncak tahun berkah 2018, yang membangun keluarga di tanah Cendrawasih, yang berkhidmah sebagai pengasuh dan pengasuh santri putri, yang mewariskan delapan tradisi pesantren kepada generasi berikutnya. Tandurane Abah Hasyim Muzadi, tukule nang Papua melalui pasangan yang penuh berkah ini."
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَيْخِنَا غُسْ مُرْشِدْ وَنِيْنْ سِيْتِيْ، وَفِيْ ذُرِّيَّتِهِمَا، وَفِيْ مَعْهَدِهِمَا، وَفِيْ خِدْمَتِهِمَا، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Ya Allah, berkahilah kami dalam Gus Mursyid dan Ning Siti, dalam keturunan keduanya, dalam pesantrennya, dan dalam khidmah keduanya. Amin Ya Rabbal 'Alamin.