بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Pasangan Pengasuh PPUQHM

PASANGAN PENGASUH PPUQHM

Pondok Pesantren Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi

Karang Senang SP 3, Mimika – Papua Tengah

— ❦ —

Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz

(Pengasuh)

— ❦ —

Ning Siti Imroatus Sholihah, S.Pd., Al-Hafidzah

(Pengasuh Santri Putri)

💍 Pernikahan: 27 Desember 2018

Daftar Isi

— Prolog —

— Bagian I: Profil Pasangan —

— Bagian II: Takdir yang Menyatukan —

— Bagian III: Pernikahan & Perjalanan —

— Bagian IV: Keluarga —

— Bagian V: Kemitraan Pengasuh —

— Epilog —

PROLOG

Sepasang Hafidz–Hafidzah dari Tanah Kendal

— ❦ —

Di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah — yang dijuluki "Kota Santri" karena kekayaan tradisi pesantrennya — pada akhir abad 20 lahir dua bayi dari dua keluarga ulama yang berbeda. Yang satu lahir di Karangmalang Wetan pada Malam Maulid Nabi 1414 H (29 Agustus 1993), yang lain lahir di Karanganom Weleri pada 14 Agustus 1992 — selisih hampir setahun, di kabupaten yang sama, tetapi di desa yang berjauhan.

Dua bayi itu — yang kelak menjadi Gus Mursyid Adi Saputra dan Ning Siti Imroatus Sholihah — tumbuh terpisah, mondok di pesantren-pesantren yang berbeda, menempuh pendidikan tinggi di kota yang berbeda. Tetapi Allah SWT, dalam takdir yang sempurna, telah merencanakan pertemuan mereka jauh sebelum keduanya saling kenal. Garis nasab leluhur mereka, garis sanad guru-guru mereka, jaringan pesantren tempat mereka belajar — semuanya secara perlahan diatur Allah untuk bertemu pada satu titik: pernikahan tanggal 27 Desember 2018.

Inilah dokumen yang menceritakan kisah pasangan ini. Bukan sekadar dua biografi yang dijajarkan, tetapi narasi tentang bagaimana Allah menyatukan dua jalur keilmuan yang berbeda menjadi satu kemitraan dakwah di tanah Papua. Empat lapis takdir indah, satu pernikahan yang menjadi puncak "tahun penuh berkah" 2018, dan satu visi bersama untuk PPUQHM.

"Mahasuci Dzat yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. Yasin: 36)

BAGIAN I

Profil Pasangan

BAB 1

Profil Gus Mursyid Adi Saputra

(Pengasuh PPUQHM)

— ❦ —

Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi (PPUQHM). Beliau lahir di Kendal pada Malam Senin, 12 Rabi'ul Awwal 1414 H atau 29 Agustus 1993 — bertepatan dengan Malam Maulid Nabi Muhammad SAW. Tanggal kelahiran ini memberi makna spiritual yang dalam: bahwa beliau lahir pada malam paling istimewa bagi umat Islam.

Latar Keluarga

Beliau adalah putra dari pasangan H. Muhammad Sobirin (Kepala Desa Karangmalang Wetan) dan Hj. Siti Kumaeroh (Perangkat Desa). Kakek dari jalur ayah adalah KH. R. Muhammad Said. Yang sangat istimewa, dari jalur ibunda Siti Kumaeroh, beliau adalah dzurriyah Walisongo — silsilah nasab 43 generasi sampai Rasulullah SAW melalui Sayyidah Fatimah → Sayyid Abdul Qodir Al-Jilani → Maulana Ishaq → Sunan Giri → KH. R. Asy'ari "Kyai Guru Kaliwungu" (kakek buyut).

Status nasab beliau telah diverifikasi secara resmi oleh Naqobah Ansab Auliya' Tis'ah (NAAT) Indonesia dengan kerjasama Naqobah As-Saadah Al-Asyrof Kerajaan Maroko, dengan Sertifikat 0047/NAAT-SHD/XII/2023 tanggal 13 Desember 2023. Nama resmi beliau dalam sertifikat: K.H.R. Mursid Adi Saputra Sibthu al-Giri al-Ishaqi al-Qodiri al-Musawi al-Hasani. Namun dalam tradisi tawadhu mengikuti teladan Walisongo, beliau lebih memilih dipanggil dengan nama akrab: "Gus Mursyid Adi Saputra".

Perjalanan Pesantren

Pendidikan agama Gus dimulai dari kakek KH. R. Muhammad Said sejak usia dini. Kemudian beliau menempuh perjalanan keilmuan di pesantren-pesantren ternama:

Empat Sanad Al-Qur'an ke Mbah Munawwir Krapyak

Sanad Al-Qur'an Gus bersambung melalui empat jalur, semuanya bermuara ke KH. Muhammad Munawwir Krapyak:

Status Saat Ini

Saat ini Gus Mursyid menjabat sebagai Pengasuh PPUQHM dan Dewan Khos Pagar Nusa Mimika. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua PC LDNU Mimika dan Ketua PC GP Ansor Mimika selama beberapa periode, namun saat ini telah purna dari kedua jabatan tersebut. Beliau juga sedang menempuh program S2 Pendidikan Agama Islam di STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang dengan tesis tentang pemikiran Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi.

BAB 2

Profil Ning Siti Imroatus Sholihah

(Pengasuh Santri Putri PPUQHM)

— ❦ —

Ning Siti Imroatus Sholihah, S.Pd., Al-Hafidzah adalah Pengasuh Santri Putri PPUQHM sekaligus pendamping setia Gus Mursyid. Beliau lahir di Kabupaten Kendal pada tanggal 14 Agustus 1992 — lebih tua hampir setahun dari sang suami. Dalam tradisi pesantren, pasangan dengan istri sedikit lebih tua sering dianggap berkah, mengikuti teladan pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah RA.

Latar Keluarga

Beliau adalah anak bungsu dari empat bersaudara, putri pasangan KH. Syamsuddin dan Ny. Hj. Nuriyah — tokoh agama yang dihormati di Karanganom, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal. Pendidikan agama dan Al-Qur'an pertama beliau peroleh langsung dari pangkuan kedua orangtua, dilengkapi dengan pendidikan formal di MDT NU 06 Darul Ulum Karanganom.

Empat Pesantren Ternama

Setelah lulus SD N 02 Karanganom (2005), beliau menempuh perjalanan keilmuan di empat pesantren:

Pendidikan Akademik

Bersamaan dengan tahfidz, beliau menempuh pendidikan tinggi di Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), lulus tahun 2016 dengan gelar Sarjana Pendidikan.

Dua Sanad Al-Qur'an ke Mbah Munawwir Krapyak

Sanad Al-Qur'an Ning bersambung melalui dua jalur:

Sanad ini bermuara ke titik yang sama dengan sanad Gus Mursyid.

Status Saat Ini

Saat ini Ning fokus penuh sebagai Pengasuh Santri Putri PPUQHM, mendidik anak-anak kandung dan santri putri pesantren. Beliau dengan sadar memilih untuk tidak aktif di organisasi NU eksternal, melainkan memberikan totalitas waktu, perhatian, dan tenaganya pada amanah utama sebagai ibu dan pengasuh — sesuai hadits Nabi SAW: "Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya."

BAGIAN II

Takdir yang Menyatukan

BAB 3

Empat Takdir Indah dalam Pernikahan

— ❦ —

Ketika dua pohon ditanam di tempat berbeda, lalu Allah menyatukan akarnya di bawah tanah — itu adalah takdir. Pernikahan Gus Mursyid dan Ning Siti memiliki empat lapis takdir indah yang baru terungkap setelah pernikahan terjadi. Empat takdir ini menjadi bukti bahwa Allah SWT telah mempersiapkan pertemuan mereka jauh sebelum keduanya saling kenal.

1 Pertemuan Dua Cabang Keluarga Abdurrosyid Kaliwungu

Di akhir abad 19, KH. Abdurrosyid Kaliwungu — saudagar kaya sekaligus kyai Kaliwungu — memiliki dua putra hafidz yang juga menjadi kyai besar: KH. Usman (kakak) dan KH. Ahmad Badawi (adik). Keduanya bersaudara kandung, bahkan sama-sama mondok di Makkah pada masa muda mereka.

KH. Usman (kakak) → PP. Kauman Kaliwungu → KH. Muntaha Al-Hafidz Kalibeber → KH. As'ad Al-Hafidz/Ny. Hj. Umi Fatma → guru NING SITI

KH. Ahmad Badawi (adik) → PPUQ Miftahul Falah Kaliwungu → KH. Munawwiruddin Badawi → guru GUS MURSYID

Pernikahan Gus dan Ning adalah penyatuan kembali dua jalur keilmuan yang berasal dari satu kakek bersama. Apa yang berpisah pada generasi anak-anak beliau, bersatu kembali pada generasi cucu-cicit di tanah Papua.

2 Pertemuan Dua Keturunan Maulana Ishaq

Gus Mursyid memiliki silsilah nasab yang bersambung kepada Maulana Ishaq melalui Sunan Giri (cucu Maulana Ishaq). Sementara pesantren pertama Ning (PP. Giri Kusumo Demak) didirikan oleh Mbah Hadi yang nasabnya juga bersambung kepada Maulana Ishaq.

Berarti pesantren pertama tempat Ning mondok ternyata didirikan oleh dzurriyah Maulana Ishaq — sama dengan nasab calon suaminya. Ning sudah "diasuh" oleh dzurriyah Maulana Ishaq selama tiga tahun (2005-2008) sebelum bertemu dengan dzurriyah Maulana Ishaq lainnya untuk pernikahan.

3 Pertemuan Sanad-Sanad Mbah Munawwir Krapyak

Sanad Al-Qur'an Gus melalui empat jalur, dan sanad Ning melalui dua jalur — total enam jalur sanad pasangan ini, semua bermuara ke KH. Muhammad Munawwir Krapyak. Inilah pasangan hafidz-hafidzah yang sanadnya sangat dekat dalam jaringan tahfidz Nusantara.

4 Pertemuan di KH. As'ad Al-Hafidz

Keduanya pernah berinteraksi dengan KH. As'ad Al-Hafidz di PP. Baitul Abidin Darussalam — dengan intensitas yang sangat berbeda. Gus Mursyid pada tahun 2011 datang sebagai "santri kalong" untuk tabarrukan setoran hafalan. Sementara Ning Siti memulai hafalan Al-Qur'an di pesantren ini pada tahun 2012, mondok intensif hingga mengkhatamkan 15 juz. Berbeda dalam intensitas dan durasi, tetapi sama dalam keberkahan dari guru yang sama.

"Empat lapis takdir — keluarga Abdurrosyid, Maulana Ishaq, Mbah Munawwir, KH. As'ad. Tidak ada yang direncanakan oleh manusia. Semua adalah skenario Allah SWT yang terungkap satu per satu setelah pernikahan terjadi."

BAB 4

Pertemuan di Sanad-Sanad Krapyak

— ❦ —

Mari kita lihat lebih detail bagaimana enam jalur sanad pasangan ini bertemu di KH. Muhammad Munawwir Krapyak — sanad Al-Qur'an utama abad 20 di Nusantara.

Empat Sanad Gus Mursyid

No
Jalur
Bermuara
1
via KH. Munawwiruddin Badawi → KH. Ahmad Badawi (tabarrukan)
Mbah Munawwir Krapyak
2
via KH. Mustahal Asy'ari (langsung)
Mbah Munawwir Krapyak
3
via KH. Atho'illah Asy'ari → KH. Muntaha Al-Hafidz
Mbah Munawwir Krapyak
4
via KH. As'ad Al-Hafidz → KH. Muntaha Al-Hafidz
Mbah Munawwir Krapyak

Dua Sanad Ning Siti

No
Jalur
Bermuara
1
via KH. As'ad Al-Hafidz → KH. Muntaha Al-Hafidz
Mbah Munawwir Krapyak
2
via Ny. Hj. Umi Fatma → KH. Muntaha Al-Hafidz
Mbah Munawwir Krapyak

Yang sangat indah, kedua sanad Ning bersambung melalui KH. Muntaha Al-Hafidz — salah satu jalur yang juga ada dalam sanad Gus Mursyid. Berarti pasangan ini berbagi guru spiritual yang sama. Bahkan KH. As'ad Al-Hafidz, yang menjadi guru langsung Gus pada 2011, juga menjadi guru Ning untuk 15 juz pertama hafalannya.

"Pasangan ini, jauh sebelum bertemu untuk menikah, sudah saling 'bertemu' melalui guru-guru yang sama. KH. Muntaha melalui sanad spiritual. KH. As'ad sebagai guru langsung. Mbah Munawwir Krapyak sebagai mata air sanad. Sungguh skenario takdir Allah yang sangat indah."

BAGIAN III

Pernikahan & Perjalanan

BAB 5

27 Desember 2018

— Tanggal Bersejarah —

— ❦ —

Pernikahan Gus Mursyid dan Ning Siti dilangsungkan pada tanggal 27 Desember 2018 — tanggal yang sangat istimewa dalam kronologi perjalanan PPUQHM. Tanggal ini terjadi tepat tiga bulan setelah peresmian pesantren oleh Ny. Hj. Mutammimah Hasyim dan Gus Yusron Sidqy pada 23 September 2018.

Tahun Penuh Berkah 2018

Tanggal
Peristiwa
17 Februari 2018
Pemindahan batu pertama PPUQHM ke tanah pesantren
Februari–September 2018
Pembangunan pesantren bersama gotong royong masyarakat 5 wilayah
Tahun 2018
Lulus STKQ Al-Hikam Depok dengan predikat Cumlaude
Bulan Ramadan 2018
Umroh pertama Gus + ziarah Walisongo
23 September 2018
Peresmian PPUQHM oleh keluarga Almaghfurullah KH. Hasyim Muzadi
27 Desember 2018
Pernikahan dengan Ning Siti Imroatus Sholihah

Pernikahan adalah puncak dari tahun penuh berkah ini. Setelah membangun pesantren bersama masyarakat lima wilayah, setelah lulus kuliah dengan prestasi Cumlaude, setelah pesantren diresmikan oleh keluarga sang guru tercinta — Allah SWT menyempurnakan tahun itu dengan menghadirkan Ning Siti sebagai pendamping setia.

Selisih Usia: Tradisi yang Berkah

Yang juga sangat indah: Ning Siti lahir pada 14 Agustus 1992, lebih tua dari Gus Mursyid (29 Agustus 1993) — selisih hampir setahun. Dalam tradisi pesantren, pasangan dengan istri sedikit lebih tua sering dianggap berkah, mengikuti teladan pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah RA yang juga lebih tua dari Beliau.

Sayyidah Khadijah adalah istri yang menjadi sumber penguatan Rasulullah SAW di awal kenabian. Pasangan dengan istri sedikit lebih dewasa sering memiliki dinamika kemitraan yang lebih matang dan saling melengkapi.

BAB 6

Hijrah Bersama ke Tanah Papua

— ❦ —

Setelah pernikahan pada 27 Desember 2018, dimulailah babak baru dalam kehidupan pasangan ini: hijrah bersama ke tanah Papua. Bagi Gus Mursyid, ini adalah "pulang kampung" ke pesantren yang baru saja diresmikannya. Bagi Ning Siti, ini adalah keberangkatan ke tanah baru yang belum pernah dilihatnya, jauh dari Karanganom yang menjadi tempat tumbuh kembangnya.

Pilihan Mengikuti Suami

Banyak istri ulama yang lebih memilih tinggal di Jawa dengan pesantren mertua atau pesantren keluarga sendiri. Tetapi Ning Siti memilih jalan lain — mengikuti suami yang telah mengikrarkan diri untuk berkhidmah di tanah Papua.

Ini bukan karena terpaksa. Ini adalah pilihan sadar yang lahir dari keyakinan: bahwa di sanalah dakwah dibutuhkan, di sanalah Allah akan menempatkannya, di sanalah keberkahan menunggu. Ini adalah teladan tertinggi seorang istri shalihah, mengikuti tradisi Sayyidah Hajar yang ditinggalkan di lembah Makkah yang tandus, dan para istri Sahabat yang hijrah dari Makkah ke Madinah.

Tantangan Adaptasi

Hijrah ke Mimika berarti menghadapi banyak tantangan adaptasi:

Tetapi seperti seorang santriwati sejati yang sudah ditempa di empat pesantren, Ning Siti memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi semua itu: kemandirian dari pengalaman mondok bertahun-tahun, kesabaran dari tradisi pesantren, dan ketabahan dari keluarga ulama.

"Beliau bukan istri yang 'terbawa' ke Papua. Beliau adalah istri yang 'memilih' Papua — dengan kesadaran penuh bahwa di sanalah suaminya berkhidmah, dan di sanalah Allah akan memberkahi rumah tangganya."

BAGIAN IV

Keluarga

BAB 7

Husnul Khotimah

— Putri yang Pulang Lebih Dahulu —

— ❦ —

Tahun 2020 — di era Ustadz Fajar (Masa Pertumbuhan PPUQHM) — keluarga ini dianugerahi kabar gembira: kehamilan putri pertama. Selama sembilan bulan, Ning Siti membawa amanah kehidupan dalam rahimnya. Bayi perempuan yang sedang tumbuh dalam kandungan adalah pendengar pertama tilawah Al-Qur'an seorang Hafidzah.

Tetapi Allah SWT memiliki rencana lain. Pada usia kandungan 9 bulan — saat kehidupan sudah hampir siap dimulai di dunia — sang bayi perempuan dipanggil pulang oleh Allah SWT sebelum sempat lahir ke dunia. Sang putri yang berpulang itu diberi nama indah: Husnul Khotimah — yang berarti "akhir yang baik".

Penamaan ini adalah keimanan tertinggi seorang ulama: bahwa kepulangan sang putri kepada Allah adalah "akhir yang baik" — bukan tragedi, melainkan karunia tersembunyi. Dalam tradisi Islam, anak yang wafat dalam kandungan setelah ditiupkan ruh adalah calon penghuni surga yang akan menjadi syafaat bagi orangtuanya kelak di Hari Kiamat.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا فَرَطًا وَذُخْرًا لأَِبَوَيْهَا وَشَفِيعَةً مُجَابَةً

"Ya Allah, jadikanlah Husnul Khotimah sebagai pendahulu (di surga), simpanan, dan syafaat yang dikabulkan bagi kedua orangtuanya."

Bagi pasangan ini, kehilangan ini adalah ujian yang membentuk kedalaman spiritual mereka. Kesabaran dalam menghadapi musibah, kekuatan untuk terus berkhidmah di pesantren meski hati masih berduka, ketabahan untuk tetap saling menguatkan — semua menjadi pelajaran tersembunyi yang membuat keluarga ini menjadi lebih dalam, lebih kuat, dan lebih bijaksana.

BAB 8

Ahmad Mursyid Hikam Athoillah & Husna Waliyyam Mursyida

— ❦ —

Setelah kehilangan Husnul Khotimah, Allah SWT menganugerahkan dua dzurriyah lain kepada pasangan ini — masing-masing dengan nama yang sangat indah dan sarat makna.

Ahmad Mursyid Hikam Athoillah (Lahir 8 Oktober 2020)

Putra pertama yang hidup, lahir pada tanggal 8 Oktober 2020 — di tahun yang sama dengan wafatnya Husnul Khotimah. Allah memberi dengan cara mengambil, dan mengambil dengan cara memberi.

Nama Ahmad Mursyid Hikam Athoillah menggabungkan empat makna yang sangat dalam:

Sang putra dipersiapkan sejak nama untuk menjadi pewaris tradisi Al-Hikam yang mendalam.

Husna Waliyyam Mursyida (Lahir 25 Februari 2022)

Putri kedua yang hidup, lahir pada tanggal 25 Februari 2022. Yang sangat menyentuh dari nama "Husna" adalah cara mengabadikan ingatan kepada sang kakak yang pulang lebih dahulu — Husnul Khotimah. "Husna" adalah gema dari "Husnul". Setiap kali nama Husna diucapkan, ada gema Husnul yang terdengar.

Sang putri yang pulang lebih dahulu tetap hidup dalam nama adiknya. Setiap kali Husna disebut, ada doa untuk Husnul yang ikut tersampaikan.

"Tiga dzurriyah, tiga karunia, tiga doa yang menyertai pasangan ini. Husnul Khotimah di alam abadi, Ahmad Mursyid Hikam Athoillah dan Husna Waliyyam Mursyida di alam dunia. Keluarga yang utuh secara spiritual — sebagian di sini, sebagian di sana, semuanya milik Allah."

BAGIAN V

Kemitraan Pengasuh

BAB 9

Pembagian Peran Pengasuhan

— ❦ —

Di PPUQHM, pasangan ini menjalankan kemitraan pengasuhan yang sangat efektif — masing-masing mengelola domainnya dengan keahlian yang berbeda namun saling melengkapi.

👨‍🏫 Peran Gus Mursyid sebagai Pengasuh

  • Visi strategis dan arah pesantren ke depan
  • Pengasuhan santri putra (penuh waktu)
  • Hubungan eksternal: PCNU Mimika, pemerintah, masyarakat luas
  • Pendidikan kitab kuning untuk santri tingkat lanjut
  • Pemberian sanad Al-Qur'an kepada santri yang khatam
  • Khotbah Jum'at, ceramah umum, dan dakwah eksternal
  • Saat ini Dewan Khos Pagar Nusa Mimika

👩‍🏫 Peran Ning Siti sebagai Pengasuh Santri Putri

  • Pembinaan tahfidz Al-Qur'an santri putri
  • Pendidikan akhlak dan adab santriwati
  • Pendidikan fiqih khusus perempuan (haid, nifas, ibadah perempuan)
  • Pendampingan personal santri putri
  • Pendidikan anak-anak kandung (Ahmad Mursyid & Husna)
  • Menjadi teladan langsung sebagai "ibu" bagi santriwati

Pilihan Fokus yang Strategis

Yang sangat membedakan kemitraan ini adalah pilihan Ning untuk fokus penuh pada pendidikan internal pesantren — anak-anak kandung dan santri putri PPUQHM. Beliau dengan sadar memilih untuk tidak aktif di organisasi NU eksternal seperti Muslimat NU atau Fatayat NU. Pilihan ini bukan karena beliau tidak peduli pada perjuangan organisasi, tetapi karena beliau memilih untuk memberikan totalitas waktu, perhatian, dan tenaganya pada amanah utama: mendidik anak-anak kandung sebagai dzurriyah Walisongo dan generasi penerus dakwah keluarga, serta mendidik santri putri PPUQHM.

Sementara Gus Mursyid yang aktif di berbagai organisasi NU eksternal, Ning Siti menjaga "benteng dalam" — pesantren dan keluarga — dengan totalitas. Inilah pembagian peran yang sangat efektif: yang satu menjangkau ke luar, yang satu memperkokoh ke dalam.

"Tidak setiap perempuan harus menjadi tokoh organisasi untuk memberi manfaat besar. Kadang manfaat yang paling besar adalah manfaat yang fokus dan mendalam — manfaat seorang ibu untuk anaknya, dan seorang pengasuh untuk santrinya."

BAB 10

Kombinasi Tradisi yang Unik

— ❦ —

Yang sangat istimewa dari pasangan ini adalah kombinasi delapan tradisi pesantren yang mereka bawa ke PPUQHM. Masing-masing pernah belajar di empat pesantren — totalnya delapan tradisi pesantren NU yang berbeda.

📗 Empat Tradisi Gus Mursyid

  • Tradisi Sanad Krapyak Kaliwungu (PPUQ Miftahul Falah, KH. Munawwiruddin Badawi)
  • Tradisi Tahfidz Pegunungan (PPTQ Al-Asy'ariyyah Kalibeber, KH. Mustahal Asy'ari)
  • Tradisi Al-Hikam Wasathiyah (STKQ Al-Hikam Depok, KH. Hasyim Muzadi)
  • Tradisi Akademik Internasional (Univ. Az-Zaitunah Tunisia)

📕 Empat Tradisi Ning Siti

  • Tradisi Salaf-Thoriqoh Naqsyabandiyyah (PP. Giri Kusumo Demak, KH. Munif Zuhri)
  • Tradisi Kitab Kuning Klasik (PP. Raudlatul Ulum Pati, KH. Humam Suyuthi)
  • Tradisi Tahfidz Pegunungan (PP. Baitul Abidin & Ittihadut Tholibin Wonosobo)
  • Tradisi Akademik Pendidikan (UNSIQ Wonosobo, S.Pd. PGMI)

PPUQHM sebagai "Melting Pot" Delapan Tradisi

Kedelapan tradisi ini, ketika dipadukan di PPUQHM, menjadikan pesantren ini sebagai "melting pot" tradisi pesantren NU yang sangat kaya. Para santri PPUQHM tidak hanya menerima satu tradisi, tetapi delapan tradisi sekaligus — sebuah kekayaan yang jarang ditemui di pesantren-pesantren baru lainnya.

Kombinasi unik ini terlihat dalam kurikulum PPUQHM:

"Pasangan ini bukan sekadar pasangan suami-istri biasa. Mereka adalah dua kurator tradisi yang masing-masing membawa kekayaan tersendiri dari masa pendidikan mereka, dan kini menyatukannya untuk membangun pesantren yang kaya warna."

EPILOG

Pasangan Teladan untuk PPUQHM

— ❦ —

Pondok Pesantren Ulumul Qur'an Hasyim Muzadi memiliki pasangan pengasuh yang sangat istimewa: Gus Mursyid Adi Saputra, S.Ag., Al-Hafidz dan Ning Siti Imroatus Sholihah, S.Pd., Al-Hafidzah. Pasangan yang dipertemukan oleh empat lapis takdir indah, yang menikah pada puncak "tahun penuh berkah" 2018, dan yang kini bersama-sama membangun PPUQHM di tanah Cendrawasih.

Bagi para santri PPUQHM, kehadiran pasangan pengasuh ini adalah teladan langsung tentang banyak hal:

Tabel Identitas Pasangan

Aspek
Gus Mursyid
Ning Siti
Lahir
29 Agustus 1993, Kendal
14 Agustus 1992, Kendal
Asal
Karangmalang Wetan, Kendal
Karanganom, Weleri, Kendal
Posisi Keluarga
Putra dari H. M. Sobirin & Hj. Siti Kumaeroh
Anak bungsu dari 4, putri KH. Syamsuddin & Ny. Hj. Nuriyah
Pesantren
Kaliwungu, Kalibeber, Depok, Tunisia
Demak, Pati, Wonosobo (2 pesantren)
Status
Hafidz, Cumlaude STKQ, Sibthu al-Giri
Hafidzah 30 Juz, S.Pd. PGMI
Sanad ke Mbah Munawwir
4 jalur
2 jalur
Pernikahan
27 Desember 2018
27 Desember 2018
Peran di PPUQHM
Pengasuh / Pendiri
Pengasuh Santri Putri
Aktivitas Eksternal
Pernah Ketua PC LDNU & GP Ansor Mimika; saat ini Dewan Khos Pagar Nusa & S2 STAIMA
Fokus pendidikan anak & santri putri

Tiga Dzurriyah

Allah SWT telah menganugerahkan tiga dzurriyah kepada pasangan ini:

Husnul Khotimah

Putri pertama (almarhumah, 2020)

Wafat dalam kandungan — calon penghuni surga

Ahmad Mursyid Hikam Athoillah

Putra (lahir 8 Oktober 2020)

Pewaris tradisi Al-Hikam

Husna Waliyyam Mursyida

Putri (lahir 25 Februari 2022)

Gema nama sang kakak Husnul Khotimah

Doa Penutup

"Inilah pasangan pengasuh PPUQHM — yang dipertemukan oleh empat takdir indah, yang menikah pada puncak tahun berkah 2018, yang membangun keluarga di tanah Cendrawasih, yang berkhidmah sebagai pengasuh dan pengasuh santri putri, yang mewariskan delapan tradisi pesantren kepada generasi berikutnya. Tandurane Abah Hasyim Muzadi, tukule nang Papua melalui pasangan yang penuh berkah ini."

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَيْخِنَا غُسْ مُرْشِدْ وَنِيْنْ سِيْتِيْ، وَفِيْ ذُرِّيَّتِهِمَا، وَفِيْ مَعْهَدِهِمَا، وَفِيْ خِدْمَتِهِمَا، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Ya Allah, berkahilah kami dalam Gus Mursyid dan Ning Siti, dalam keturunan keduanya, dalam pesantrennya, dan dalam khidmah keduanya. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

← Kembali ke Beranda
💬